Minggu, 08 Februari 2015

I. Judul

Deteksi pencemaran air di sumber air utama UIN Walisongo Semarang dengan adanya bakteri Escherichia coli

II. Latar belakang

Menurut SK menteri Kependudukan Lingkungan Hidup no. 02/MENKLH/1988. “Pencemaran air adalah masuk atau dimasukkannya kontaminan atau zat pencemar seperti makhluk hidup, zat, energi, dan / atau berubahnya tatanan (komposisi air) oleh kegiatan manusia dan proses alam sehingga kualitas air menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukanya.”

Zat pencemar dapat didefinisikan sebagai zat kimia (cair, padat, maupun gas), baik yang berasal dari alam yang kehadirannya dipicu oleh manusia secara langsung atau tidak langsung ataupun dari kegiatan manusia (anthropogenic origin) yang telah diidentifikasi  mengakibatkan efek yang buruk bagi kehidupan manusia atau lingkungannya. Sedangkan kontaminan, sama seperti zat pencemar, hanya saja efek negatif atau dampaknya secara nyata terhadap manusia dan lingkungannya belum teridentifikasi secara jelas.

Air sendiri dalam keadaan murni merupakan cairan yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak ada rasanya. Air bersifat polar yang berukuran sangat kecil yaitu dengan diameter kurang lebih 3 ( (0,3 nm atau 3x10-8 cm). Satu molekul air (H2O) mengandung dua atom hidrogen yang melekat pada satu atom oksigen. Posisi kedua atom hidrogen terhadap molekul oksigen sebagai pusatnya membentuk sudut 1050. Posisi yang asimetris ini menyebabkan ketidakseimbangan muatan, sehingga menyebabkan dua kutub (dipole). Kutub positif pada hidrogen dan kutub negatif pada atom oksigen.

Kehidupan di permukaan bumi ditopang dengan keberadaan air. Berbagai kegiatan manusia tak lepas dari peranan air yang mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Air yang ada di bumi di antaranya adalah air sungai, air laut, air tanah, air hujan, air danau, dll. Sekitar 70 persen dari planet yang kita pijak ini tertutupi oleh air. Tanpa air, tak mungkin kita ada, begitu pun bumi seperti yang kita kenal ini. Air sangat penting dan tak tergantikan.

 Pada era modern sekarang ini, air sungai sudah banyak yang tidak digunakan. Karena sifat biologisnya banyak yang berubah yaitu menjadi berubah warna, bau, atau rasanya. Masyarakat beralih ke sumber air tanah. Air tanah menjadi sumber utama sebagian besar penduduk Indonesia sebagai air minum, memasak, mandi, dan mencuci. Namun, semakin pesatnya perkembangan teknologi, banyak didirikan pabrik-pabrik dan gedung-gedung yang menyumbang kontaminan pada air tanah. Penurunan kualitas air yang disebabkan kegiatan manusia inilah yang dapat mengancam secara langsung maupun tak langsung keselamatan manusia sebagai penggunanya.

Air adalah media tumbuh berbagai mikroorganisme, karena itu air sangat mudah terkontaminasi oleh zat pencemar. Salah satunya pencemaran oleh materi fekal sehingga air dimasuki berbagai mikroorganisme patogen, termasuk bakteri, virus, protozoa, dan cacing parasit. Golongan bakteri pencemar ini misalnya adalah golongan coli, kehadiran bakteri coli sering dikaitkan dengan pencemaran air yang telah terkontaminasi oleh feces manusia atau hewan. Jika jumlahnya berlebihan akan membuat diare pada manusia.

Escherichia coli merupakan bakteri gram-negatif yang bersifat khemoheterotrof berbentuk batang yang umum ditemukan di usus besar mammalia.  E. coli dapat hidup dengan atau tanpa oksigen (anaerob fakultatif), sehingga dia dapat ditemui di mana saja, terutama di air dan makanan yang belum dimasak. Eschericia coli dinamai berdasarkan penemunya yaitu Theodor Escherich.

Ada ratusan strain E. coli, beberapa tidak menyebabkan penyakit, sementara lainnya dapat menyebabkan sakit yang serius bahkan kematian. Strain E. coli yang ada di usus kita tidak menyebabkan penyakit, sementara strain lainnya yang bersifat enterotoksigenik, enteropatogenik dan enteroinvasif dapat menyebabkan diare parah, infe ksi ginjal serta menyerang saluran kelamin dan saluran kemih.

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1987 oleh peneliti biologi Amerika bernama Buckle mendapati bahwa E. coli umumnya ada di sumber air atau makanan yang telah tercemar tinja, yang kemudian akan mencemari peralatan dapur apapun yang bersentuhan dengan sumber pencemaran tersebut.

Sebuah studi di Kanada yang dipublikasikan bulan Oktober 2008 mencatat bahwa mereka yang terinfeksi E. coli O157:H7 berat 30% lebih berisiko menderita tekanan darah tinggi atau kerusakan ginjal. Studi yang melibatkan 2800 penduduk Walkerton selama 7 tahun ini mencatat bahwa pengobatan justru memperburuk kerusakan ginjal dan menyebabkan komplikasi jangka panjang pada anak-anak.

Oleh sebab itu peniliti bertujuan untuk mengidentifikasi adanya pencemaran air di sumber air utama UIN Walisongo Semarang yang disebabkan oleh bakteri E coli sehingga dapat meminimalisir dan bisa mencegah terjadi infeksi penyakit karena di indikasi kualitas air di UIN Walisongo Semarang menurun.

Ill. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah :
A. Adakah bakteri E coli  yang terkandung di sumber air utama UIN Walisongo Semarang?
B. Berapakah nilai MPN bakteri E. coli pada sumber air utama UIN Walisongo Semarang?
C. Bagaimana kualitas air yang digunakan di UIN Walisongo Semarang?

IV. Tujuan Penenelitian

Mengetahui Keberadaan E. coli pada sumber air utama yang digunakan di UIN Walisongo Semrang.
A. Mengetahui jumlah koloni bakteri E. coli yang terkandung di sumber air utama UIN Walisongo Semarang dengan menggunakan Uji Most Probable Number (MPN).
B. Mengetahui kualitas air yang digunakan di UIN Walisongo Semarang.




V. Manfaat penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:

A. Sebagai bahan masukan untuk UIN Walisongo Semarang tentang pentingnya kebersihan dalam pengelolaan air
B. Bagi peneliti, untuk menambah ilmu tentang uji bakteriologis jumlah bakteri Escherechia coli pada sumber air utama di UIN Walisongo Semarang.
C. Memberi bahan masukan bagi pihak lain yang akan melanjutkan penelitian ini ataupun yang ada kaitanya dengan penelitian ini.

V. Kajian pustaka
Kajian pustaka merupakan penelitian atau kajian terdahulu yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti. Kajian pustaka berfungsi sebagai perbandingan dan tambahan informasi terhadap penelitian yang akan dilakukan. Adapun kajian pustaka sementara yang penulis gunakan sebagai referensi awal dalam melakukan penelitian ini meliputi:
1. Hariyono Purbowarsito (Mahasiswa Departemen Biologi Universitas Airlangga Fakultas SAINS dan Teknologi) dalam skripsinya “Uji Bakteriologis Air Sumur di Kecamatan Semampir Surabaya”, yang meneliti tentang kandungan bakteri koliform dan kualitas air di kecamatan Semampir surabaya menyatakan bahwa Kualitas baku air dikecamatan Semampir termasuk dalam kelas E dengan kategori air tersebut sangat amat jelek mengandung koliform lebih 2400 per 100ml. Sehingga air sumur di tiap kelurahan sangat buruk apabila digunakan untuk mandi maupun mencuci.
2. M. Ramdhani Djoepri dalam jurnalnya “Isolasi dan Identifikasi Mikroba Escherechia coli pada Makanan Sossis dan Nuget”, yang memeriksa kandungan E coli pada makanan sosis dan nuget, menyimpulkan bahwa hasil identifikasi menunjukkan positif E coli sebanyak 42 sampel (23 sampel sosis dan 24 sampel nuget) dari 67 sampel yang diperiksa. Dengan ditemukan bakteri E coli pada makanan tersebut sudah jelas terdapat adanya kerusakan atau perubahan yang disebabkan oleh bakteri, sehingga makanan tersebut sudah tidak layak pakai.
3. Yolanda Arlita dkk dalam jurnalnya yang berjudul “Identifikasi Bakteri Coli dan Salmonella sp. Pada Makanan Jajanan Bakso Tusuk di Kota Manado”, yang meneliti kandungan bakteri coli dan salmonella sp pada makanan bakso tusuk di kota Manado dapat d disimpulkan bahwa sebagian besar jajanan bakso tusuk di Manado mengandung bakteri, yaitu Escherichia coli (terbanyak) dan Salmonella sp.

Vl. Daftar Pustaka

Emoto, Masaru, The Miracle of Water: Mukjizat Air alih bahasa Susi Purwoko, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Notodarmojo, Suprihanto, Pencemaran Tanah & Air Tanah, Bandung:Penerbit ITB, 2005.
Suharni, Theresia Tri, dkk, Mikrobiologi Umum, (Yogyakarta: Universitas Atma Jaya, 2008
Tri Suharni, Theresia dkk, Mikrobiologi Umum, Yogyakarta: Universitas Atma Jaya, 2008

Evi, Apa itu E coli ?, dalam http://yukiwaterfilter.com/in/artikel-162-hatihati-dengan-ecoli.html, di akses tanggal 3 Februari 2015

Muhammad Alhada Fuadillah Alhabib,Pencemaran Air di Indonesia,  dalam http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-45423-Makalah-Pencemaran%20Air%20Sungai%20Di%20Indonesia.html, diakses tanggal 3 Februari 2015.

Punya hp Android kok gak di manfaatin? Kita juga bisa menghasilkan uang sendiri loh. Rugi dong kalau cuma buat sms, telepon dan on line saja. Karena dengan hp Android kita bisa menghasilkan uang hanya dengan instal aplikasi whaff rewards dari play store android kamu. Gini caranya:

1. Masuk ke Google Play dan cari aplikasi WHAFF 
2. Download aplikasi whaff dan Install di Android kamu.
3. Buka dan Login dengan FB aja (biar gampang) dan masukan Premium Code Invite : AS60596 (0=nol) (harus masukin kode untuk mendapatkan rewerd berupa dolar $0,30 dan terdaftar sebagai member premium). Hati-hati pada langkah nomer 3 ini, karna setelah sesaat log in akan langsung diminta memasukkan kode, jika sampai terlewat maka anda tak akan mendapatkan saldo rewerd dan kamu gak akan bisa ngulangin lagi jika berniatan masukin kode lagi. Kalo perlu kode ny d hapalin aja.
4. Selesai
5. Jika saldo sudah terkumpul. Bisa dicairkan ke rkening bank anda melalui paypal. Namun pencairan ini jg minimal $10. Atau juga bisa langsung d belanjain ke game on line langganan anda. Bisa d tukar diamond Leta get rich, atau ingot di game Honey trap, dan lain sebagainya.
6. Sampai saat ini ada jg yg sudah mengumpulkan $ 5000 lebih atau setara dengan sekitar 60juta rupiah. Di bawah ini adalah contoh earning yg saya hasilkan pertama kali dlm waktu 3 hari. Lumayan kan.




Jumat, 30 Januari 2015



Sakit? Rindu? Dendam? Atau cinta? Rasa yang tak mungkin aku jabarkan dengan mudahnya. Dia yang dulu selalu ada saat aku ingin, selalu menjadi pendengar yang baik saat aku mengeluh. Namun dia tiba-tiba seperti di bawa angin malam, dingin dan melelapkan. Ketika aku terbangun dalam dunia lelap, serta ku tengok jendela melihat dunia nyata, dia tak ada lagi disana.
Melihatku dengan senyumanya yang mempesona, menyapaku dengan ucapan selamat pagi. Aku selalu beharap ia akan kembali, tiap kutengok luar jendela itu setiap hari, namun usahaku mungkinlah ada batasnya. Tapi hatiku masih menunggu dan kutunggu, sampai akhirnya aku lelah untuk membuka jendela. Rasa takut mulai menyelimuti, dia tak disana lagi. Jika tidak karna kekuatan cinta, aku pasti dengan mudahnya menyerah. Aku masih ingin berusaha, walaupun aku tertatih, karna aku ingin melihat dia untuk sekali lagi. Tuhan.. i hope, only one again.

Kamis, 29 Januari 2015

ADAPTASI DAN SPESIASI MENURUT PANDANGAN ISLAM

I. PENDAHULUAN
Evolusi adalah proses perubahan struktur tubuh makhluk hidup yang berlangsung sangat lambat dan dalam waktu yang sangat lama. Evolusi juga merupakan perkembangan makhluk hidup yang berlangsung secara perlahan-lahan dalam jangka waktu yang lama dari bentuk sederhana ke arah bentuk yang komplek. Evolusi juga dapat diartikan proses perubahan yang berlangsung sedikit demi sedikit dan memakan waktu yang lama.
Teori evolusi dimaksudkan sebagai penjelasan tentang bagaimana evolusi itu terjadi (mekanisme evolusi). Bisa terjadi ada beberapa penjelasan yang diberikan mengenai suatu fenomena. Mengenai evolusi, pada abad ke-19 Lamarck memberikan penjelasan bagaimana evolusi itu terjadi, yang dikenal sebagai teori evolusi Lamarck atau teori Lamarck. Penjelasan yang diberikan oleh Lamarck itu kemudian dianggap tidak benar karena ada penjelasan lain yang dipandang lebih memuaskan, terutama yang diberikan oleh Darwin dan dikenal sebagaiteori evolusi Darwin atau teori Darwin.
Faktor-faktor yang mempengaruhi evolusi adalah seleksi alam, mutasi dan peran isolasi dalam pembentukan spesies baru. Ada perjuangan untuk hidup yaitu antara individu-individu dalam suatu spesies untuk mendapatkan makanan, air, cahaya atau faktor-faktor lain yang penting dalam lingkungan itu. Melalui peristiwa isolasi dapat ditetapkan adanya perbedaan genetik. Organisme yang hidup di sekitar kita telah mengalami tahap-tahap isolasi menuju pembentukan spesies baru.
Bukti teori evolusi adalah; adaptasi dan seleksi alam. Seleksi alam berlangsung secara mikro evolusi, dengan hasil akhirnya adalah adaptasi. Dua unsur yang terdapat pada teori Evolusi Darwin, yaitu; adaptasi dan pembentukan spesies baru (spesiasi). Terjadi adaptasi melalui proses mikro evolusi, yakni perubahan pada individu dalam populasi secara bertahap untuk membentuk spesies baru.
Namun salah satu diantara beberapa kontroversi dalam teorinya, Darwin menyatakan bahwa tidak ada campur tangan Tuhan dalam kejadian Evolusi Makhluk Hidup, hal inilah yang menjadi sorotan negatif oleh para agamis, terutama kaum Muslimin dengan konsep agama Islam (al-Qur’an dan al-Hadits).
Pada makalah ini akan dijelaskan secara terperinci tentang adaptasi dan pembentukan spesies baru (spesiasi) menurut pandangan Islam.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa pengertian adaptasi dan spesiasi?
B. Bagaimana adaptasi menurut pandangan Islam?
C. Bagaimana spesiasi menurut pandangan Islam?

III. PEMBAHASAN
  A. Pengertian Adaptasi dan Spesiasi
    1. Pengertian Adaptasi
Adaptasi merupakan proses yang membuat organisme semakin cocok atau sesuai dengan habitatnya. Istilah adaptasi juga dapat menunjuk sifat yang penting bagi ketahanan hidup organisme. Ada beberapa definisi yang diberikan oleh Theodosius Dobzhansky, yaitu:
Adaptasi adalah proses evolusi dimana lewat proses ini organisme menjadi lebih mampu hidup di habitatnya (bisa lebih dari satu habitat).
Keadaptifan (adaptedness) adalah keadaan beradaptasi, yaitu seberapa mampu organisme untuk hidup dan bereproduksi pada suatu set habitat.
Sifat adaptif adalah aspek pola perkembangan organisme yang memungkinkan atau meningkatkan probabilitas organisme untuk survive dan bereproduksi.
Adaptasi ini diperlukan oleh makhluk hidup di bumi, karena setiap lingkungan di bumi memiliki karakteristik sendiri. Oleh karena itu, setiap makhluk hidup memiliki bentuk dan karakteristik berbeda untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Lingkungan tempat makhluk hidup berkembang biak disebut dengan habitat. Pada umumnya, makhluk hidup yang sudah beradaptasi di lingkungan tertentu sulit untuk beradaptasi di tempat lain. Kecuali manusia, karena manusia memliki otak dan pikiran sebagai alat untuk beradaptasi dengan berbagai lingkungan yang ada. Otak dan pikiran ini digunakan untuk menyesuaikan lingkungan dengan kemauannya. Misalnya, di kutub yang dingin maka ia membuat rumah yang berbentuk seperti kubah karena dengan bentuk seperti itu maka suhu didalamnya akan lebih hangat.
Adaptasi terdiri dari tiga macam, antara lain:
    1. Adaptasi Morfologi

Adaptasi morfologi adalah penyesuaian bentuk tubuh makhluk hidup atau alat-alat tubuh makhluk hidup terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Pada adaptasi ini biasanya bentuk penyesuaian bentuk tubuhnya seperti pada bentuk paruh, bentuk kaki, maupun bentuk seluruh tubuh secara keseluruhan. Adaptasi pada bentuk tubuh ini berfungsi untuk menyesuaikan bentuk tubuhnya dengan cara ia mendapatkan makanan dan menyesuaikan bentuk tubuhnya dengan bagaimana ia tinggal di tempat tersebut.








Gb. 1. Adaptasi Morfologi Pada Bentuk Mulut Serangga

   2.Adaptasi Fisiologi
Adaptasi Fisiologi adalah penyesuaian fungsi alat tubuh suatu makhluk hidup terhadap keadaan lingkungannya. Adaptasi ini tidak dapat dilihat langsung oleh mata. Karena pada adaptasi fisiologi menyangkut tentang fungsi organ-organ bagian dalam tubuh makhluk hidup dengan lingkungannya. Seperti fungsi jantung manusia untuk beradaptasi dengan daerah tinggi.











Gb. 2. Adaptasi Fisiologi Pada Organ-Organ Ikan

   3. Adaptasi Tingkah Laku

Adaptasi tingkah laku adalah cara makhluk hidup beradaptasi dengan lingkungannya dalam bentuk tingkah laku. Adaptasi tingkah laku ini berhubungan dengan tindakan makhluk hidup untuk beradaptasi atau melindungi diri dari pemangsa. Selain itu juga adaptasi tingkah laku berhubungan dengan kebiasaan makhluk hidup untuk beradaptasi dan mempertahankan hidupnya di suatu lingkungan.







  Gb. 3. Adaptasi Tingkah Laku Pada Ikan Paus
Seleksi alam akan memodifikasi struktur organism muda kearah induknya, dan struktur induk kea rah anaknya. Dalam hewan yang suka hidup berkelompok, seleksi ini akan menyesuaikan struktur setiap individu demi kemanfaatan seluruh kelompoknya, apabila masyarakat hewan tersebut nyata-nyata akan beruntung dengan adanya perubahan yang terpilih itu. Apa yang tidak dapat dilakukan oleh seleksi alam adalah memodifikasi struktur satu jenis tanpa memberinya keuntungan, kecuali demi kebaikan spesies lain, dan meskipun pernyataan mengenai pengaruh ini dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan mengenai sejarah alam, saya tidak dapat menemukan satu kasuspun yang tahan uji.
Suatu struktur yang digunakan hanya sekali dalam kehidupan hewan, apabila penting baginya, akan dapat dimodifikasi sampai sejauh mungkin oleh seleksi alam. Sebagai contoh rahang besar yang dipunyai beberapa serangga hanya digunakan untuk membuka kepompong. Atau ujung keras paruh burung yang belum menetas akan digunakan untu k memecahkan telurnya.
Pengertian Spesiasi
Sepesiasi merupakan proses atau cara terbentuknya spesies makhluk hidup. Spesiasi berasal dari kata dasar spesies. Spesies berasal dari bahasa Latin yang berarti “jenis” atau “penampakan”. Konsep spesies biologis mendefinisikan spesies sebagai suatu populasi atau kelompok populasi yang anggota-anggotanya memiliki kemampuan untuk saling mengawini satu sama lain di alam dan menghasilkan keturunan yang dapat hidup dan fertil jika kawin dengan spesies lain.
Konsep spesies biologis bergantung  pada isolasi  reproduktif, di mana setiap spesies terisolasi oleh sawar (penghalang) yang menghalangi terjadinya perkawinan. Sehinggga, percampuran gen dengan spesies lain dapat terhambat. Terdapat dua cara umum spesiasi (cara pembentukan spesies) berdasarkan aliran gen di antara populasi, yang tercakup dalam isolasi geografis, yaitu:
    1. Spesiasi Alopatrik
Pada spesiasi ini, suatu populasi diisolasi oleh penghalang tertentu secara geografis. Penghalang ini dalam mengisolasi populasi tertentu tergantung pada kemampuan organisme populasi tersebut untuk berpindah. Kedua populasi  yang terisolasi dalam daerah  atau lingkungan berbeda ini, lama-kelamaan akan mengalami perubahan fisiologi dan morfologi seiring adaptasinya terhadap lingkungan populasi tersebut. Akhirnya terbentuk spesies baru.
    2. Spesiasi Simpatrik
Spesiasi ini terjadi pada populasi berbeda tetapi hidup dalam lingkungan yang sama, ataupun populasi yang awalnya terpisah secara geografis tetapi kemudian berpindah ke suatu tempat yang berbeda populasi. Kedua populasi yang berbeda ini akan saling beradaptasi dengan lingkungan dan populasi di sekitarnya. Sehingga terbentuk kemiripan fisiologi dan morfologi antar populasi. Keadaan ini memungkinkan terjadi spesiasi.

B. Adaptasi Menurut Pandangan Islam
Variasi dalam detail karakter yang dibagi bersama membuat individu dalam populasi beradaptasi dengan lingkungannya. Dengan kata lain, individu dalam populasi alam bervariasi dalam kesesuaian – adaptasi terhadap lingkungan yang diukur dengan kontribusi genetik relatif untuk generasi mendatang.
Satu karakter yang meningkatkan kesesuaian individu disebut adaptasi evolusioner atau karakter adaptif. Jika individu bertahan dengan karakter adaptif ini, maka karakter yang diwariskan menghasilkan lebih banyak keturunan daripada yang tidak. Kemudian frekuensi munculnya karakter tersebut meningkat dalam populasi sepanjang generasi.
Penurunan sifat dan karakter itu melalui gen yang disimpan dalam dua substansi, yaitu DNA yang terdapat di dalam kromosom dan RNA yang terdapat di dalam sitoplasma. Kode genetik yang diinformasikan kepada keturunan (jika tidk ada perubahan struktur DNA) akan selalu persis sama dengan induknya. Kesalahan transformasi genetik dalam membuat salinan “kode instruksi DNA” menimbulkan kelainan pada keturunannya yang disebut mutasi.
B.G. Ranganathan menyatakan bahwa mutasi bersifat kecil, acak, dan berbahaya. Mutasi pun jarang terjadi, kemungkinan besar mutasi itu tidak berguna. Empat karakteristik mutasi ini menunjukkan bahwa mutasi tidak dapat mengarah pada perkembangan evolusioner.
Mutasi-mutasi yang sering disebut-sebut oleh ahli Biologi dan yang mereka pakai untuk menerangkan evolusi, pada kenyataannya tidak pernah terjadi di luar suatu batasan sempit dan tidak pula mewakili anomali ataupun dekadensi dari spesies tertentu. Tak satupun dari variasi yang disajikan oleh para pembela evolusi sebagai awal timbulnya spesies baru, merupakan varian yang bukan berada dalam lingkungan suatu spesies spesifik.
Jadi, adaptasi yang dilakukan oleh suatu makhluk hidup akibat dari mutasi tidak dapat membuatnya menjadi suatu spesies baru. Setiap makhluk hidup diciptakan oleh Allah SWT secara sempurna dengan segala sesuatu yang dibutuhkannya untuk dapat bertahan hidup sepanjang Allah SWT menghendakinya. Sebagaimana firman-Nya dalam surat al-A’la ayat 2-3:
((((((( (((((( (((((((( (((   ((((((((( (((((( (((((((( (((  
“Yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya). Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. (al-A’la:2-3)”
Teori Evolusi yang mengatakan bahwa adaptasi dapat membuat suatu organisme berubah menjadi spesies baru karena adanya mutasi dan dapat bereproduksi dengan menghasilkan keturunan yang lebih unggul tidak dapat terbukti karena mutasi bersifat merusak dan bukannya memperbaiki, sedangkan mutasi yang bisa diturunkan hanyalah mutasi yang hanya terjadi pada sel gamet organisme tersebut. Selain itu, tidak ada catatan fosil yang membuktikan hal tersebut.
Campbell, et al. mengatakan dalam bukunya, “BIOLOGI”, bahwa vertebrata yang dapat terbang berkembang dari vertebrata yang tidak dapat terbang melalui suatu mekanisme perbaikan secara bertahap struktur yang telah ada untuk fungsi-fungsi baru. Vertebrata yang semula tidak dapat terbang, karena keadaan lingkungan membuatnya beradaptasi sehingga secara perlahan-lahan ia mendapatkan struktur baru yang membuatnya bisa terbang.
Perubahan yang berlangsung secara perlahan-lahan ini seharusnya pernah terdapat sangat banyak spesies peralihan selama periode perubahan yang panjang ini. Sebagai contoh, seharusnya terdapat beberapa jenis makhluk setengah ikan-setengah reptil di masa lampau, dengan beberapa ciri reptil sebagai tambahan pada ciri ikan yang telah mereka miliki. Atau seharusnya terdapat beberapa jenis burung-reptil dengan beberapa ciri burung disamping ciri reptil yang telah mereka miliki. Evolusionis menyebut makhluk-makhluk imajiner yang  mereka yakini hidup di masa lalu ini sebagai “bentuk transisi”.
Sayangnya, sampai sekarang belum ditemukan adanya bukti fosil tersebut. Prof. John Moore dari Departemen Ilmu Pengetahuan Alam, Michigan State University mengatakan bahwa tidak ada bukti fosil yang mendukung teori evulusi kecuali bukti tidak langsung. Pentingnya palaeontologi dalam teri evolusi diakui Darwin dalam bukunya “Origin of Species”. Dia mengetahui bahwa catatan fosil tidak mendukung spekulasinya, tetapi dia yakin bahwa riset berikutnya akan mengisi kekosongan tersebut.
Kaum evolusionis telah berburu fosil dan melakukan penggalian mencari mata rantai yang hilang di seluruh penjuru dunia sejak pertengahan abad ke-19. Walaupun mereka telah bekerja keras, tak satu pun bentuk transisi ditemukan. Semua fosil yang ditemukan justru membuktikan bahwa kehidupan muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam bentuk yang lengkap.Allah SWT berfirman dalam surat as-Sajdah ayat 7:
(((((((( (((((((( (((( (((((( (((((((( ……………
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya….” (as-Sajdah: 7).

Keragaman makhluk sengaja diciptakan Allah SWT dan setiap jenis makhluk diciptakan secara lengkap, kompeks, rumit, teratur, dalam bentuk, ukuran, dan proses atau waktu yang tepat, serta disusun dari komponen secara seimbang dan akurat. Sejak awal penciptaannya setiap jenis makhluk memiliki ciri-ciri yang khusus dan istimewa sehingga suatu jenis makhluk dapat dibedakan dari jenis makhluk lainnya. Manusia hanya dapat mendeskripsikan, mengenal fungsi dan manfaat, serta mengelola hasil ciptaan Allah SWT yang beragam itu untuk mencapai tujuan hidup dan kehidupannya.
Allah SWT juga melarang kita sebagai umat Islam mempercayai keragu-raguan dalam perkara yang sudah pasti, seperti sifat wujud Allah SWT, penciptaan alam semesta, manusia, dan kehidupannya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Yunus ayat 36:
((((( (((((((( (((((((((((( (((( ((((( ( (((( ((((((( (( ((((((( (((( ((((((((( ((((((( ( (((( (((( ((((((( ((((( ((((((((((( ((((  
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Yunus: 36)

 Teori Evolusi mengenai pembentukan spesies baru sebagai hasil dari adaptasi yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah jelas hanyalah sebuah prasangka belaka. Dengan mengetahui, memahami, dan memelajari segala ilmu pengetahuan tentang kehidupan kecil yang sistematis, kompleks dan rumit maka dapat menjelaskan bahwa asal usul kehidupan adalah suatu keajaiban yang tidak bisa terjadi secara spontan dan kebetulan, serta variasi kehidupan tidak dapat terjadi melalu proses seleksi alam yang tidak terarah dan acak.
Bagi kita, umat Muslim cukuplah dengan beriman. Iman kepada terjadinya penciptaan yang tidak alami yang boleh dikatakan merupakan peristiwa yang hanya satu kali saja terjadi, mendasari kelahiran berikutnya. Sebagaimana iman kita pada penciptaan Nabi Adam as., sebagai manusia pertama, kemudian melahirkan manusia-manusia berikutnya. Allah Maha Kuasa berbuat sesuai kehendak-Nya.

C. Spesiasi Menurut Pandangan Islam
Ketika Charles Darwin mengeluarkan bukunya yang berjudul “On the Origin of Species” pada tanggal 24 Nopember 1859 yang menjelaskan mengenai keragaman makhluk hidup melalui apa yang dinamakan evolusi oleh seleksi alam. Salah satu kajian evolusi yaitu spesiasi, di mana spesiasi merupakan proses evolusi ketika spesies baru terbentuk. Dengan kata lain, spesiasi adalah pembentukan spesies baru dan berbeda dari spesies sebelumnya dalam kerangka evolusi.
Selanjutnya berkembanglah berbagai teori yang menyatakan bahwa semua makhluk hidup yang ada sekarang lahir karena adanya evolusi atau perubahan secara perlahan-lahan dari sisi anatomi dan morfologi akibat seleksi alam.
Umat Islam percaya dan mengimani bahwa dalam segala penciptaan, cukuplah Allah SWT mengatakan “Jadilah!” maka jadilah ciptaan itu. Dalam hal ini, penciptaan spontan dan sesuatu yang tidak ada langsung menjadi ada dan sempurna, sama sekali bukanlah hal yang sulit bagi Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surat an-Nur ayat 45:
(((((( (((((( (((( (((((((( (((( (((((( ( ((((((((( ((( ((((((( (((((( ((((((((( ((((((((( ((( ((((((( (((((( (((((((((( ((((((((( ((( ((((((( (((((( (((((((( ( (((((((( (((( ((( (((((((( ( (((( (((( (((((( ((((( (((((( ((((((( ((((  
“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendakin-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (an-Nur: 45)
Dalam buku “On the Origin of Species”, Darwin menduga bahwa asal-usul kehidupan dan spesies berdasar pada konsep "adaptasi terhadap lingkungan". Aneka spesies makhluk hidup, kata Darwin, tidak diciptakan secara terpisah oleh Tuhan, tetapi berasal dari nenek moyang yang sama dan menjadi berbeda satu sama lain akibat kondisi alam.
Dalam referensi lain, dalam konteks evolusi (spesiasi-red) bahwa makhluk hidup muncul melalui proses seleksi alam (natural selection) yang gradual (berangsur-angsur) sehingga bagi sementara pihak, peran Tuhan sebagai pencipta akan terusik. Pernyataan teori evolusi tersebut tentang keberadaan makhluk hidup secara kebetulan (by chance) dan tidak memiliki tujuan (non purposive) membuat signifikansi Tuhan bagi kehidupan meluntur. Makhluk hidup tidak akan lagi butuh penyelamatan dari Tuhan, karena itu agama tidak lagi dibutuhkan.
Meskipun dalam perspektif Islam, penciptaan hewan dan tumbuhan, al-Qur’an tidak menolak adanya proses evolusi yang dikatakan sebagai hasil dari seleksi alam. Namun natural selection yang dimaksudkan itu masih dalam kontrol, kehendak dan ijin Allah SWT, dengan kata lain selalu ada campur tangan Allah SWT, evolusi (spesiasi-red) yang terkendali, bukan evolusi (spesiasi-red) acak. Alasan inilah mengapa gagasan evolusi yang digaungkan oleh Darwin sangat bertentangan dengan konsep Islam, sebagaimana yang tercantum dalam surat Al-‘Ankabut ayat 19-20, surat Yunus ayat 34, dan surat Al-Waqi’ah ayat 62-65.
( (((((((( (((((((( (((((( (((((((( (((( (((((((((( (((( ((((((((((( ( (((( ((((((( ((((( (((( ((((((( ((((   (((( (((((((( ((( (((((((( (((((((((((( (((((( (((((( (((((((((( ( (((( (((( ((((((( ((((((((((( (((((((((( ( (((( (((( (((((( ((((( (((((( ((((((( ((((  
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulakan penciptaan (makhluk), kemudian Dia mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah memulakan penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (al-Ankabut: 19-20).
(((( (((( ((( ((((((((((((( ((( (((((((((( (((((((((( (((( (((((((((( ( (((( (((( (((((((((( (((((((((( (((( (((((((((( ( (((((((( ((((((((((( ((((  
 “Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?” Katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya kembali. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (menyembah selain Allah)?” (Yunus: 34).
(((((((( (((((((((( ((((((((((( ((((((((( (((((((( ((((((((((( ((((   ((((((((((((( ((( ((((((((((( ((((   ((((((((( ((((((((((((((( (((( (((((( ((((((((((((( ((((   (((( (((((((( ((((((((((((( (((((((( (((((((((( ((((((((((( ((((  
“Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran? Pernahkah kamu perhatikan benih benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; Maka jadilah kamu heran tercengang.” (al-Waqi’ah: 62-65)

Evolusi (spesiasi-red) melalui seleksi alam dengan segala kebetulan-kebetulannya menggunakan apa yang telah ada sebelumnya, menyilangkannya, menyebabkan terjadinya diversifikasi atau keanekaragaman makhluk hidup, akan tetapi tidak menciptakan sesuatu dari yang hidup. Sekali lagi, tidak menciptakan sesuatu dari yang tidak hidup. Teori seleksi alam gagal menjelaskan bagaimana atau darimana kehidupan awal mulai tercipta, dan tetap berpegang pada prinsip yang dinamakan kebetulan. Bagaimana makhluk hidup dapat menjadi hidup dari sesuatu yang mati? Mengapa sesuatu yang telah mati tidak dapat dihidupkan kembali (oleh manusia) walaupun telah diperbaiki dan diperbaharui semua organnya? Di dalam Islam, konsep seperti ini kembali lagi kepada apa yang dinamakan ruh, elemen dasar kehidupan.
Untuk setiap makhluk hidup, Allah dapat menciptakannya secara spontan, dapat pula mewariskan dan mendiversifikasikannya melalui sunnatullah-Nya, yaitu dengan penukaran materi genetik secara alami sehingga menghasilkan makhluk hidup dengan varian yang baru.
Pada akhirnya siapapun yang mencari jawaban dari pertanyaan bagaimana makhluk hidup, menjadi ada, akan menghadapi dua penjelasan yang berbeda. Yang pertama adalah “Penciptaan”, gagasan bahwa semua makhluk hidup muncul sebagai hasil dari sebuah rancangan cerdas. Penjelasan kedua adalah teori “Evolusi”, yang menyatakan bahwa makhluk hidup bukanlah hasil dari rancangan cerdas, tetapi dari sebab-sebab yang serba kebetulan dan proses alamiah.
Bagi Islam ada atau munculnya makhluk hidup ini bukan jauh dari kondisi yang terjadi secara kebetulan, namun hal itu merupakan desain cerdas dari yang Maha Pencipta, Allah SWT.
IV. KESIMPULAN
Adaptasi merupakan proses yang membuat organisme semakin cocok atau sesuai dengan habitatnya. Adaptasi ini diperlukan oleh makhluk hidup di bumi, karena setiap lingkungan di bumi memiliki karakteristik sendiri. Oleh karena itu, setiap makhluk hidup memiliki bentuk dan karakteristik berbeda untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sedangkan Sepesiasi merupakan proses atau cara terbentuknya spesies makhluk hidup. Terdapat dua cara umum spesiasi berdasarkan aliran gen di antara populasi, yang tercakup dalam isolasi geografis, yaitu spesiasi alopatrik dan spesiasi simpatrik.
Teori Evolusi mengenai pembentukan spesies baru sebagai hasil dari adaptasi yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah jelas hanyalah sebuah prasangka belaka. Bagi kita, umat Muslim cukuplah dengan beriman. Iman kepada terjadinya penciptaan yang tidak alami yang boleh dikatakan merupakan peristiwa yang hanya satu kali saja terjadi, mendasari kelahiran berikutnya. Sebagaimana iman kita pada penciptaan Nabi Adam as., sebagai manusia pertama, kemudian melahirkan manusia-manusia berikutnya. Allah Maha Kuasa berbuat sesuai kehendak-Nya.
Pada akhirnya siapapun yang mencari jawaban dari pertanyaan bagaimana makhluk hidup, menjadi ada, akan menghadapi dua penjelasan yang berbeda. Yang pertama adalah “Penciptaan”, gagasan bahwa semua makhluk hidup muncul sebagai hasil dari sebuah rancangan cerdas. Penjelasan kedua adalah teori “Evolusi”, yang menyatakan bahwa makhluk hidup bukanlah hasil dari rancangan cerdas, tetapi dari sebab-sebab yang serba kebetulan dan proses alamiah. Bagi Islam ada atau munculnya makhluk hidup ini bukan jauh dari kondisi yang terjadi secara kebetulan, namun hal itu merupakan desain cerdas dari yang Maha Pencipta, Allah SWT.
V. PENUTUP
Demikian makalah ini kami susun, semoga dapat memberikan konstribusi informasi yang positif mengenai masalah terkait. Kami menyadari bahwa masih ada kekurangan-kekurangan dalam penyusunan makalah ini, untuk itu kami meminta kritik dan saran yang membangun guna melengkapi dan menyempurnakan makalah berikutnya. Dan atas perhatiannya, kami ucapkan trimakasih.

Sabtu, 06 September 2014



MINERAL

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Biokimia
Dosen Pengampu : Ibu Nur Hayati













Disusun oleh:
Laela Nor Faizah                  (113811011)




FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014

   I.       PENDAHULUAN
Unsur mineral merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan oleh makhluk hidup di samping karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin, juga dikenal sebagai zat anorganik atau kadar abu. Sebagai contoh, bila bahan biologis dibakar, semua senyawa organik akan rusak; sebagian besar karbon berubah menjadi gas karbon dioksida (CO) hidrogen menjadi uap air, dan Nitrogen menjadi uap Nitrogen (N) Sebagian besar mineral akan tertinggal dalam bentuk abu dalam bentuk senyawa anorganik sederhana, serta akan terjadi penggabungan antar individu atau dengan oksigen sehingga terbentuk garam anorganik.
 Berbagai unsur anorganik (mineral) terdapat dalam bahan biologi, tetapi tidak atau belum semua mineral tersebut terbukti esensial, sehingga ada mineral esensial dan non esensial. Mineral esensial yaitu mineral yang sangat diperlukan dalam proses fisiologis makhluk hidup untuk membantu kerja enzim atau pembentukan organ. Unsur-unsur mineral esensial dalam tubuh terdiri atas dua golongan, yaitu mineral makro dan mineral mikro.[1]
II.       RUMUSAN MASALAH
A.    Pengertian mineral
B.     Macam dan peranan mineral organik
C.     Struktur  dan metabolisme mineral organik
III.       PEMBAHASAN
A.    Pengertian mineral
Mineral adalah senyawa alami yang terbentuk melalui proses geologis. Istilah mineral termasuk tidak hanya bahan komposisi kimia tetapi juga struktur mineral. Menurut   The International Mineralogical Association tahun 1995 telah mengajukan definisi baru tentang definisi material “Mineral adalah suatu unsur atau senyawa yang dalam keadaan normalnya memiliki unsur kristal dan terbentuk dari hasil proses geologi”.[2]  Menurut Sunita almatsier, mineral adalah unsur atau senyawa kimia yang ada dalam normalnya memiliki unsur kristal dan terbentuk dari hasil proses geologi yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan.[3]
B.     Macam dan peranan mineral organik
Secara umum, mineral terbagi menjadi 2 macam, yaitu mineral makro dan mineral mikro. Mineral makro adalah mineral yang ada di dalam tubuh lebih dari 0.01% dari berat badan dan dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah lebih dari 100 mg/hari. Mineral mikro terdapat dalam tubuh kurang dari 0.01% berat tubuh dan hanya dibutuhkan dalam jumlah kurang dari 100 mg/hari.[4]
1.      Mineral makro
a.       Kalsium ( Ca )
Sumber : Susu, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan daging
Fungsi Kalsium : Pembentukan tulang dan gigi yang dipengaruhi oleh vitamin D, Pembekuan darah, Aktivitas saraf dan otak, Aktivator enzim, Aktivitas otot jantung, Melindungi tubuh. terhadap absorpsi zat radioaktif
b.      Fosfor ( P )
Sumber  : Susu, kacang-kacangan, daging, dan sayuran
Fungsi Fosfor : Pembentukan tulang dan gigi, metabolisme, kontraksi otot, aktivitas saraf, komponen enzim, DNA, RNA, dan ATP, membentuk fosfatid, bagian dari plasma, menjaga keseimbangan asam basa, pengaturan aktivitas hormon dan efektivitas beberapa vitamin.
c.       Natrium ( Na )
Sumber Natrium : Daging, garam, mentega, dan produk peternakan
Fungsi Natrium : transmisi saraf,Kontraksi otot,Menjaga tekanan osmotik darah,Sebagai buffer (dalam bentuk Nakarbonat),Mempertahankan iritabilitas sel otot dan Komponen anorganik cairan ekstra sel
d.      Klor ( Cl )
Sumber Klor : Garam, susu, daging, dan telur
Fungsi Klor : Pembentukan HCl dalam lambung yang berperan dalam penyerapan Fe dan emulsi lemak, Aktivator enzim, Bahan ion klorit yang penting untuk transfer CO2 dari darah ke paru-paru, Memelihara keseimbangan asam basa, elektrolit, dan tekanan osmosis.
e.       Magnesium ( Mg )
Sumber  : kacang-kacangan, sayuran hijau, makanan hasil laut, dan sereal
Fungsi magnesium : pembentukan tulang, darah, dan otot, aktivator enzim. kontraksi otot, aktivitas saraf, respirasi intrasel, dan sintesis protein.[5]
2.      Mineral  Mikro
a.       Besi
Dua per tiga ditemukan di dalam darah, sementara sisanya ditemukan di dalam hati, sumsum tulang, otot. Peranannya untuk produksi sel darah merah. Zat besi dalam hemoglobin inilah yang mengikat oksigen dalam darah. Sumber-sumber alami zat besi adalah: daging sapi, daging ayam, telur, beberapa jenis buah, dan sayur-sayuran berwarna hijau tua.
b.      Zinc/Seng
Fungsi seng terbilang sangat vital bagi kelangsungan hidup sel-sel tubuh manusia. Seng dapat mudah ditemukan pada berbagai jenis makanan yang kaya akan kandungan protein seperti daging, kacang-kacangan dan polong polongan. Sumber paling baik adalah sumber protein hewani, terutama daging, hati, kerang, biji-bijian(lengkap), serealia, leguminosa dan telur.
c.       Yodium
Di dalam tubuh, yodium sangat dibutuhkan oleh kelenjar tiroid (kelenjar yang agak besar dan berada di leher depan bagian bawah). Namun, sumber yodium terbesar adalah seafood, seperti: kerang, udang, rumput laut dan ikan laut.
d.      Selenium
Selenium telah menunjukkan diri sebagai salah satu dari agen-agen antikanker yang lebih kuat. Apabila ia digabungkan dengan vitamin E, efektivitas keduanya terhadap kanker akan sangat meningkat. Mereka bersama-sama bekerja sebagai antikanker yang kuat, sistem anti penuaan yang disebut glutation peroksidase (GSH).
e.       Chromium
Fungsinya hampir sama dengan insulin yang diproduksi oleh tubuh yaitu untuk mendorong glukosa (karbohidrat) ke dalam sel untuk dijadikan energi. Asupan chromium yang optimal tampaknya menurunkan jumlah insulin yang diproduksi agar tidak terlalu banyak menjaga kadar gula darah. Sumber alami chromium: gandum, kuning telur, bayam, daging sapi, susu dan kacang hijau.[6]

C.     Struktur  dan metabolisme mineral organik
Mineral merupakan bagian tubuh yang memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik tingkat sel, jaringan, organ maupun fungsi tubuh secara keseluruhan. Selain itu, mineral berperan dalam berbagai tahap metabolisme terutama sebagai kofaktor dalam aktivitas enzim. Keseimbangan ion-ion  mineral di dalam cairan tubuh diperlukan untuk pengaturan kegiatan enzim.
1.      Mineral Makro
a.       Natrium (Na)
Natrium diabsorpsi di usus halus secara aktif (membutuhkan energi). Natrium kemudian dibawa oleh aliran darah ke ginjal untuk disaring. Setelahnya, dikembalikan ke aliran darah dalam jumlah cukup untuk mempertahankan taraf natrium dalam darah. Kelebihan natrium akan dikeluarkan melalui urin.[7]
b.      Klor (Cl)
Konsentrasi klor tertinggi adalah dalam cairan serebrospinal (otak dan sumsum tulang belakang), lambung dan pancreas. Klor diabsorpsi di usus halus dan dieksresi melalui urin dan keringat. Kehilangan klor mengikuti kehilangan natrium.[8]
c.       Kalsium (Ca)
Sebanyak 30-50 % kalsium yang dikonsumsi diabsorpsi tubuh yang terjadi di bagian atas usus halus yaitu duodenum. Kalsium hanya bisa diabsorpsi bila terdapat dalam bentuk larut air dan tidak mengendap karena unsure makanan lain. Kalsium yang tidak diabsorpsi dikeluarkan melalui feses. Kehilangan kalsium dapat terjadi melalui urin, sekresi cairan yang masuk saluran cerna serta keringat.[9]
d.      Fosfor (P)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyb2trAemwze4CqJh8U49x8Dw3cYbgB2mcpFhQ9W0xIPvmuUod7DS1zp9K4l4Jzx-5dwdgxPFPG7VPdY0d97Ol-OeHC0tSTjZ8jxHkk_YFhrzzY4U-XCmaVSFkFWJS5R17Ccs9ReQN9XzT/s1600/400px-DNA_As_Structure_Formula_(Indonesian).PNGFosfor dapat diabsorpsi secara efisien sebagai fosfor bebas di dalam usus setelah dihidrolisis dan dilepas dari makanan oleh enzim alkalin fosfatase dalam mukosa usus halus dan diabsorpsi secara aktif yang dibantu oleh bentuk aktif vitamin D dan difusi pasif. Kadar fosfor dalam darah diatur oleh hormone paratiroid (PTH) yang dikeluarkan oleh kelenjar paratiroid dan hormone kalsitonin serta vitamin D, untuk mengontrol jumlah fosfor yang diserap, jumlah yang ditahan oleh ginjal, jumlah yang dibebaskan dan disimpan dalam tulang.[10]
e.       Magnesium (Mg)
Magnesium diabsorpsi di usus halus dengan bantuan alat angkut aktif dan secara difusi pasif.  Eksresi magnesium meningkat oleh adanya hormone tiroid, asidosis, aldosteron serta kekurangan fosfor dan kalium. Eksresi magnesium menurun karena pengaruh kalsitonin, glukagon dan PTH terhadap resorpsi tubula ginjal.[11] https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgW52YgkSIQ4TvZLzD92WXeRgaN3cFulBw3rEEa03a9zxTHJUvrjHzRqg1VMG8vWfgH0cGbaxq2lb1zaPNBM3w7ZwdD5SbU5OwZp_GED8o4g1Dm_CUqxDll8tU6G5Iuq9yIzxczQnrfgBM/s320/2138665_f260.jpg
2.      Mineral Mikro
a.       Besi (Fe)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0NOw46QXHhlqrIX6HJxkuusVpw7ulyVJQcQBg5beYYxb3PcAbWkHn5PYapWUP6Y-Lw9riKn3jLZ-URAn_SbLOkdgfSzaKZKdE-DWoO11INHSe-llqDRd4wiWoi4hwuSzppbeIfyUe2E_S/s400/Struktur+klorofil+%26+darah.jpgSebagian besar besi dalam bentuk feri direduksi menjadi bentuk fero. Absorpsi terutama terjadi dibagian atas usus halus (duodenum) dengan bantuan alat angkut protein khusus, yaitu transferin dan feritin. Di dalam sumsum tulang, besi digunakan untuk membuat hemoglobin yang merupakan bagian dari sel darah merah. Sisanya dibawa ke jaringan tubuh yang membutuhkan. Kelebihan besi disimpan sebagai protein feritin dan hemosiderin di dalam hati, sumsum tulang belakang.[12]
b.      Seng (Zn)
Seng di absorpsi di bagian atas usus halus (duodenum). Kelebihan seng di simpan di dalam hati dalam bentuk metalotionein. Di dalam pankreas seng digunakan untuk membuat enzim pencernaan, yang pada waktu makan dikeluarkan ke dalam saluran cerna. Absorpsi seng diatur oleh metalotionein yang disintesis di dalam  sel dinding saluran cerna. Seng dikeluarkan tubuh terutama melalui feses atau urin.[13]
c.       Iodium (I)
Iodium dengan mudah di absorpsi dalam bentuk iodida. Ekskresi dikeluarkan melalui ginjal. Fungsi yodium sebagai komponen esensial tiroksin dan kelenjar tiroid. Konsumsi yodium di atas 2000mg/hari dianggap berlebihan. Hal ini dapat menghambat pelepasan yodium dan tiroid.[14]
d.      Selenium (Se)
Selenium berada dalam makanan dalam bentuk selenometionin dan selenosistein. Absorpsi selenium terjadi pada bagian atas usus halus secara aktif. Selenium diangkut oleh albumin dan alfa-2 globulin. Absorpsi lebih efisien, bila tubuh dalam keadaan kekurangan selenium. konsumsi tinggi menyebabkan peningkatan ekskresi melalui urin.[15]
IV.       KESIMPULAN
Mineral adalah senyawa alami yang terbentuk melalui proses geologis. Istilah mineral termasuk tidak hanya bahan komposisi kimia tetapi juga struktur mineral. Menurut Sunita almatsier, mineral adalah unsur atau senyawa kimia yang ada dalam normalnya memiliki unsur kristal dan terbentuk dari hasil proses geologi yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan.
Mineral merupakan bagian tubuh yang memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik tingkat sel, jaringan, organ maupun fungsi tubuh secara keseluruhan. Selain itu, mineral berperan dalam berbagai tahap metabolisme terutama sebagai kofaktor dalam aktivitas enzim.
V.       PENUTUP
Demikian makalah yang dapat penulis susun, penulis mengharap kritik dan sasaran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan makalah penulis selanjutnya. Atas kritik dan saran pembaca kami mengucapkan terimakasih.





















DAFTAR PUSTAKA
Almatsier ,Sunita. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Anonim.http://www.hilo.co.id/mineral-little-but-big-in-your-body (diakses 6 Juni 2014)
Anonim.http://ketutardika.blogspot.com/2011/11/makalah-tentang-mineral.html (diakses 6 Juni 2014)
Ediyunasri. http://ediyunasri.blogspot.com/2012/09/mineral-makro-dan-mineral-mikro.html (diakses 6 Juni 2014)
Ayutiana. http://ayutiana.wordpress .com/ 2014/01/07/ makalah-mineral/ (diakses      6 Juni 2014)


[1] http://ketutardika.blogspot.com/2011/11/makalah-tentang-mineral.html (diakses 6 Juni 2014)
[3] Sunita Almatsier, 2001, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, hlm. 228.
[4] http://www.hilo.co.id/mineral-little-but-big-in-your-body (diakses 6 Juni 2014)

[5]  http://ayutiana.wordpress.com/2014/01/07/makalah-mineral/ (diakses 6 Juni 2014)
[6] http://ediyunasri.blogspot.com/2012/09/mineral-makro-dan-mineral-mikro.html (diakses 6 Juni 2014)
[7] Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, hlm. 230
[8] Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, hlm. 232
[9] Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, hlm 235
[10] Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, hlm 243-244
[11] Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, hlm 246-247
[12] Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, hlm 250
[13] Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, hlm 258
[14] Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, hlm 263
[15] Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, hlm 271